Obat Amandel
PENGOBATAN AMANDEL, , OBAT HERBAL AMANDEL
Uji khasiat selama 12 tahun membuktikan kemanjuran ramuan tersebut, efektif untuk
menyembuhkan :
AMANDEL TANPA OPERASI
SELAIN RADANG AMANDEL, BISA MENYEMBUHKAN PENYAKIT RADANG YANG LAIN:
RADANG USUS BUNTU - RADANG USUS - RADANG LAMBUNG - BRONCHITIS - SINUSITIS
DI RAMU OLEH HERBALIS BERPENGALAMAN DI BIDANGNYA
Obat Amandel Untuk Anak
Diskripsi Produk :
1. Anbitol, komposisi : Andrographis paniculata, Curcuma manggae, Elephantopus scaber, Ganoderma lucidum, Hedyotis corymbusa, madu, dll.
2. Susu Amdacil, komposisi : Abrus precatorius, Elephantophus scaber, Zingiber officinale, Curcuma domestica, Nondairy creamer, Gula putih. Susu kedelai dilengkapi dengan antibiotik herbal & anti inflamasi herbal.
3. An BCV, komposisi : Andrographis paniculata, Curcuma xhantorriza, Curcuma zedoaria, Azadiracta indica, madu, dll.
Obat Amandel Untuk Dewasa
Diskripsi Produk :
1. Anbitol, komposisi : Andrographis paniculata, Curcuma manggae, Elephantopus scaber, Ganoderma lucidum, Hedyotis corymbusa, madu, dll.
2. An BCV, komposisi : Andrographis paniculata, Curcuma xhantorriza, Curcuma zedoaria, Azadiracta indica, madu, dll.
3. Biotic Caps komposisi : Andrographis paniculata, Curcuma zedoaria, Hedyotis corymbusa, Elephantopus scabere, Meremmia mammosa.
SEBAIKNYA KONSULTASI TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBELI PRODUK
TEAM KONSULTASI
Joko R Suryanto |
Purwo Suryanto, BSc.
|
Sarwo Abdi W |
| STPT NO.448/26/STPT/DINKES/I/2010 | STPT NO.448/27/STPT/DINKES/I/2010 | STPT NO.448/28/STPT/DINKES/I/2010 |
| Hp : 0817 600 6362 | Hp : 0812 948 5787 | Hp : 0817 683 6993 |
| Flexi : 021 - 68636391 | Hp : 0878 7744 5415 | Hp : 0813 8840 6455 |
MAAF TIDAK MELAYANI SMS |
||
Meninggal Paska Operasi Amandel
Sumber : Republika.
Malam itu, 26 Januari lalu di RS Mitra Keluarga, Reviandra Savitri, bocah 6 tahun, menghembuskan nafas terakhirnya di ruang unit gawat darurat anak lantai dua. Anak pertama pasangan Johan Aidar dan Efriani meninggal saat menjalani operasi amandel. Sempat ada dugaan, kematian bocah cantik ini karena kelalaian pembiusan kendati pihak rumah sakit sudah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa kejadian itu bukan karena kesalahan medis
Operasi Amandel Yang Berujung Kematian
Operasi pengangkatan amandel berujung maut. Bocah lelaki berusia 8 tahun tewas di duga mal praktik setelah mendapat 2 suntikan di RSUD Cibinong. Sebelumnya dia menjalani operasi amandel dan saat mau pulang suster menyuntiknya hingga tubuhnya kebiru-biruan lalu meninggal. Dugaan malpraktik ini menimpa Ihsan Akbar Kinanti, siswa kelas III, putra pertama pasangan Oki Nasputra dengan Agustin Isa Putri, warga perumahan Bogor Asri Blok B5 No.13 Kelurahan Nanggewer, Bogor.
Menurut Oki sang ayah, Ihsan menderita amandel sejak kecil. Setelah berusia 8 tahun, Oki membawa putranya ke RSU Cibinong untuk operasi pengangkatan amandel. Rabu Ihsan masuk ke ruang operasi yang ditangani dr. Dadang Krisna dan berjalan lancer. Sehari setelah operasi di bawa ke ruang perawatan dan kondisinya terus membaik.
Kamis, Oki meminta Dr. Dadang Krisna agar anaknya diperbolehkan pulang. Namun sebelum pulang dating seorang suster yang membawa empat pet suntikan dan menyuntikkannya kepada ihsan. Sesaat
setelah disuntik tubuh Ihsan mendadak biru-biru. Bahkan Ihsan mengeluarkan air kencing, menahan rasa sakitnya. Saat itu, suster itu terlihat panic. Kemudian, menyuntik Ihsan kembali. Kemudian Ihsan dibawa ke ruang ICU, namun Jumat Ihsan meninggal dunia. Peristiwa ini membuat Oki dan istrinya tak bisa menahan rasaharu. Humas RSD Cibinong, dr Wahju Kurnijanti membantah bila kematian Ihsan akibat malpraktik.
sumber :http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1759630-operasi-amandel-yang-berujung-kematian/
Berbagai Kasus Fatal Paska operasi Amandel
Seorang Pasien Kritis Usai Operasi Amandel
Sumber : Metro Malam Kamis, 24 Desember 2009 23:53 WIB
Seorang pasien kritis setelah menjalani operasi amandel di Rumah Sakit Advent, Bandar Lampung. Pasien bernama Evi Kaduri itu dioperasi pada 7 Desember lalu dan dua hari kemudian muntah darah hingga tak sadarkan diri. Hingga Kamis (24/12), Evi masih terbaring di ruang instalasi khusus (care unit) menggunakan alat bantu pernafasan. Tim dokter memvonis Evi mengalami infeksi pada luka operasinya. Namun, pihak keluarga mengatakan, Evi mengalami gagal ginjal sehingga harus cuci darah setelah operasi. Pihak keluarga berencana menuntut pihak rumah sakit atas dugaan malapraktik. Direktur Rumah Sakit Advent, Rizal Ronal, membantah pihaknya telah melakukan malpraktik. Bantahan ini ditanggapi lagi oleh pihak keluarga yang meminta dokter menjelaskan penyebab Evi kritis. Sejauh ini, biaya perawatan Evi digratiskan pihak rumah sakit. Manajemen rumah sakit juga berjanji bertanggung jawab mengembalikan kondisi pasien. evi akan dirujuk ke rumah sakit di Jakarta bila keluarga menyetujui. Kejadian komplikasi paska operasi amandel tersebut meski jarang tetapi beberapa kali terjadi kasus yang dilaporkan. jarang terjadi karena tindakan operasi amndel merupakan tindakan operatif ringan. Resiko komplikasi ini meningkat terutama pada penderita yang mengalami hipersensitifitas atau alergi yang tidak ringan.
Pengadilan Untuk Yang Mengangkat Amandel
RUANGAN sidang Pengadilan Jakarta Selatan 4 Agustus sarat dengan pengunjung. Banyak yang terpaksa berdiri. Di situ sedang diadili dua orang dokter. Nyonya Amelia Syukri (bukan nama asli) spesialis THT dan ahli anestesi Syaiful Ismangun (bukan nama sebenarnya) oleh Jaksa J.R. Bangun, SH dituduh “berlaku kurang hati-hati atau berbuat ceroboh dalam melakukan operasi amandel atas diri Erni Handayani, sehingga korban meninggal.” Menurut jaksa, kedua orang dokter itu melanggar pasal 359 KUHP jo. pasal 361 KUHP. Kedua terdakwa nampak tenang saja menghadapi tuduhan jaksa. Padahal jika terbukti mereka bisa dihukum penjara lima tahun. Operasi amandel yang kemudian ternyata berakibat fatal bagi Erni, tujuh tahun, berlangsung 21 Desember 1979. Pembedahan dilaksanakan di tempat praktek dr. Amelia di Jalan BBD, Kelurahan Menteng Daiam, Tebet, Jakarta. Tak Ada Keharusan Dalam persidangan dr. Amelia menyebutkan adanya indikasi tertentu sehingga ia merasa perlu untuk mengangkat amandel Erni. Berdasarkan wawancara dengan Nyonya Julianti (ibu Erni) ia berkesimpulan anak tersebut mengidap radang amandel dan pilek yang kronis. Nyonya Julianti katanya mengemuIakan bahwa Erni sudah dibawa ke beberapa dokter: Namun amandelnya tak kunjung sembuh. “Sebab itu saya berkesimpulan Erni harus dioperasi.” Tapi dalam sidang Nyonya Julianti membantah keterangan dr. Amelia tadi. Katanya ia baru tahu anaknya itu sakit amandel justru dari dr. Amelia. Di persidangan ahli anestesi dr. Syaiful Ismangun menceritahan bahwa dalam melaksanakan pengangkatan amandel, si Erni diberikan suntikan Sulfas atropin, Setelah itu disuntikkan obat bius pentotal. Lantas disuntikkan pula suksinil. “Secara fisik keadaan Erni tidak ada kelainan,” katanya. Operasi berjalan lancar dan hanya memakan waktu setengah jam. Tapi malangnya begitu Erni hendak disadarkan kembali, jantungnya melemah. Syaiful, segera berusaha menormalkan kembali jantung si pasien. Ia berikan suntikan Sulfas antropin. Karena tak membaik ia suntik pula dengan adrenalin. Yang terakhir ini membawa hasil. Denyut jantung yang tadinya hanya 20/menit naik menjadi 108. Tapi keadaan itu ternyata tak berlangsung lama, dan merosot kembali. Keadaan kritis dan mencemaskan di ruangan praktek pribadi itu berlangsung sekitar 25 menit. Atas persetujuan dr. Amelia Syukri, dr Syaiful Ismangun membawa pasien ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.”Karena keadaan Erni benar-benar gawat,” katanya. Anak itu dibaringkan di Intensive Care Unit. Dibantu dua perawat ia berjuang menyelamatkan Erni. “Saya sudah melakukan segalanya, tapi jantungnya tetap. melemah,” ujarnya. Erni meninggal jam enam sore, tiga hari menjelang Natal. Ada apa dengn jantung Erni yang melemah? Dalam Ipersidangan dr. Amelia Syukri mengatakan tak ada keharusan untuk memeriksa jantung si pasien sebelum mel kukan operasi. “Tak ada ketentuannya”. Pasien yang harus diperiksa jantungnya sebelum tindakan operasi, adalah penderita diphtheri atau pasien yang berusia di atas 40,” urainya. Ada pendapat lain: Melemahnya jantung Erni itu kemungkinan, karena terlalu dalamnya pentotal. “Disayangkan ahli anestesi terlalu menganggap mudah pemakaian obat yang daya kerjanya begitu cepat,” seorang ahli bedah memberikan ulasan. Keterangan mengenai kematian Erni itu mungkin bisa terungkap dalam pengadilan. Mayat Erni memang diautopsi. Dan saksi ahli akan memberikan keterangan dalam persidangan berikutnya. Kalangan dokter yang mengikuti persilangan menyesalkan Hakim Pitoyo, SH yang mempermasalahkan surat kematian yang ditulis dr. Amelia Syukri di atas kertas resep. “Tak selayaknya memberikan keterangan kematian dalam blanko resep. Kita ‘kan orang timur,” kata Pitoyo, SH.. Keterangan di atas kertas resep itu sebenarnya sudah cukup. Yang memberatkan kedua dokter ialah operasi tadi dilaksanakan tanpa adanya surat keterangan persetujuan dari pihak pasien. Tapi yang mendorong Nyonya Julianti mengadu justru keterangan tentang kematian yang ditulis di atas kertas resep. Rupanya dia menganggap cara itu kurang senonoh. Di persidangan, Nyonya Julianti mengaku pernah menerima uang duka Rp 500.000 dari dr. Amelia. Tapi itu katanya diberikan “39 hari setelah Erni meninggal dan setelah pengaduan sampai ke pihak kepolisian.” Dan buat dia tentu bukan uang duka itu yang mendesak. Tapi keterangan yang tuntas mengenai kematian anaknya itu. Dokter Samsudin, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia Pusat menganggap pengaduan masyarakat terhadap tindak tanduk dokter merupakan gejala perkembangan masyarakat. Tapi Samsudin beranggapan belum waktunya dokter dituntut, sebagaimana di Barat. Sebab masyarakat di sini katanya belum cukup matang. Peralatan teknis kedokteran untuk mengetahui sebab kecelakaan pengobatan belum memadai.
RADANG AMANDEL ATAU TONSILITIS
Tidak sedikit jumlah operasi amandel yang dilakukan pada anak usia 3 tahun.
Tidak sedikit orang tua yang khawatir ketika anaknya mengalami pembengkakan amandel (tonsillitis). Pasalnya, demam, sakit kepala, sulit menelan, atau kehilangan suara merupakan efek minimal yang dipastikan diderita sang anak.
Yang membuat semakin situasi sulit, karena pembengkakan amandel ini dapat mudah kembali terulang. Pilihan operasi pengangkatan amandel kemudian menjadi pertimbangan. Sayangnya, mitos soal operasi amandel masih kuat diyakini masyarakat.
Bahwa upaya itu justru akan menghilangkan imunitas tubuh. Benarkah demikian? Memang benar amandel berfungsi penghadang kuman agar tidak mudah masuk ke saluran pernapasan. Sayangnya, organ berukuran seperti kelereng yang berada di belakang kiri dan kanan tenggorokan ini mudah terluka.
Fungsinya sebagai fi lter kuman justru tak jarang membuat kondisinya demikian. Masuknya mikro organisme (bakteri atau virus) yang menyerangnya. Apalagi bila virus mononucleosis atau bakteri Streptococcus pyogenes bersemayam di sana.
Peradangan dapat mudah terjadi yang bukan tidak mungkin mengganggu saluran pernapasan. “Radang amandel juga sering tidak sakit, namun amandel sudah berwarna merah,” ujar dr Agus Subagio Sp, THT dari Rumah Sakit Puri Indah, Jakarta.
Pembesaran amandel tidak selalu karena infeksi (karena kuman), namun beberapa pasien yang mengidap alergi yang mengakibatkan hidung mampet atau bernapas lewat mulut juga merupakan situasi lain yang memicu pembengkakan amandel.
Berdasarkan waktu berlangsungnya peradangan, tonsillitis dapat dibagi dua kondisi. Pertama, tonsillitis akut, di mana radang berlangsung kurang dari tiga pekan. Umumnya menyerang anak-anak pada usia 5-10 tahun. Kedua, tonsillitis kronis yang mempunyai frekuensi kambuh bisa mencapai tujuh kali dalam satu tahun atau 10 kali dalam dua tahun. Atau sedikitnya dapat terjadi tiga kali dalam satu tahun selama tiga tahun berturut-turut.
Kondisi kedua ini yang dapat mengakibatkan penyumbatan saluran pernapasan. Gejala yang dialami penderita tonsillitis cukup beragam. Selain yang telah disebutkan di atas, dapat berupa tenggorokan terasa kering, fl u, pilek, mual, sekitar leher tampak bengkak, dan bau mulut.
Bila tidak segera ditangani dapat menimbulkan berbagai komplikasi, seperti infeksi telinga dan sinus atau abses (pembengkakan bernanah) pada tenggorokan.
“Sedangkan gejala pada anak biasanya diikuti dengan obstructive sleep apnea (OSA/gangguan dan kesulitan tidur), misalnya tidurnya mendengkur, henti napas yang diikuti tersedak, ngompol, dan gang- guan tingkah laku,” tambah Agus.
Bila hal tersebut yang terjadi maka kualitas tidur anak tidak maksimal. Meski durasi tidurnya panjang, namun anak tidak fi t atau bugar ketika bangun. Pasalnya, OSA terjadi karena aliran oksigen yang masuk ke dalam paru-paru tidak sepadan dengan kebutuhannya. Gangguan tidur ini juga, tambah Agus, dapat menghambat pertumbuhan anak.
Pasalnya, buruknya kualitas tidur seorang anak tidak dapat mengoptimalkan pelepasan hormon pertumbuhan dan recovery sel yang seharusnya dapat terjadi sempurna ketika tidur. Bertahap Penanganan tonsillitis dapat dilakukan bertahap.
Mulai terapi antibiotik yang berguna untuk mematikan bakteri/virus yang menyerang. Sedangkan bila tonsillitis muncul dengan frekuensi sering dan mengakibatkan peradangan yang parah dan diperkirakan dapat mengganggu saluran pernapasan atau mengganggu makan, maka perlu ditempuh dengan operasi pengangkatan.
Menurut American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery, kriteria operasi amandel terbagi dua, yaitu kriteria mutlak operasi dan kriteria relatif (dipertimbangkan). Kriteria mutlak operasi di antaranya, telah terjadi pembesaran tonsil menyebabkan sumbatan jalan napas, sulit menelan, gangguan tidur, atau komplikasi jantung dan paru-paru akibat infeksi bakteri streptococcus.
Lalu terdapat bisul ukuran besar di daerah sekitar tonsil yang tidak bisa diobati dengan pengobatan atau drainage (pengaliran nanah), dan telah mengakibatkan kejang demam.
Sedangkan kriteria relatif operasi, misalnya infeksi tonsil sedikitnya 5-7 kali dalam setahun dan kerap kambuh meski diobati, mengakibatkan bau mulut, bakteri/virus yang sudah tidak mempan lagi dengan obat, pembesaran tonsil yang diduga tumor atau kanker.
Mitos Usia Lalu, bagaimana dengan mitos seputar pasca operasi amandel? Yang pasti, kata Agus, pengangkatan amandel sama sekali tidak usia.
“Dulu, anak dianggap harus besar dulu, usia 6-7 tahun. Tapi saya beberapa kali pernah melakukan operasi anak tiga tahun dan tidak ada masalah,” ujar dia.
Selama ini, dalam catatan medis menyebutkan bahwa kecenderungan turunnya angka operasi amandel bukan karena ditinggalkan. Namun karena obat-obatan pereda tonsillitis, khususnya antibiotik semakin baik kualitasnya. _
nala dipa
Sumber: Koran Jakarta, 3 April 2011
nala dipa



